SURVIVE – Chapter One

Hari ini, di tahun 1990, seperti biasa aku bersama teman-temanku sekolah SD sehabis pulang dari sekolah buru-buru ke pemadian umum yang ada di kampung kami. Ada 2 (dua) pemandian umum yaitu disebut LauBiang dan LauSiangin. LauBiang terkenal dengan aliran sungainya yang sangat deras dengan tebing yang curam. Jarang ada penduduk diluar kampung yang mau mandi ke tempat ini, biasanya ke LauSiangin yang aliran airnya sedang, dan juga karena area ini dijadikan juga sebagai tempat peternakan ikan.

 

Hari ini, kami sengaja main ke LauSiangin. Ada acara panen ikan di kolam umum yang diperuntukkan untuk umum. Orang tua, para pemuda dan orang dewasa lainnya sudah menyiapkan alat untuk menangkap ikan. Sedangkan kami tidak membawa apapun, karena selain memang menangkap ikan, anak-anak seusia kami lebih senang nyemplung ke sungai tempat pemandian itu, sungai yang kami sudah tau dasarnya adalah lumpur…

 

Beberapa saat kemudian acarapun dimulai. Yang maju duluan adalah anak-anak seperti kami. Gunanya adalah untuk membuat air kolam keruh, karena jika tidak maka akan sudah menangkap ikan jika kondisi air masih jernih, Ikan ini adalah ikan alam sehingga susah menangkap jika ikan bisa melihat di sekelilingnya, sehingga “membutakan” pemandangan ikan adalah solusi tebaik. Kami semua membuka baju untuk digunakan sebagai pengganti jaring ikan. jalan sana sini mengejar ikan yang bisa dilihat. namun satu hal yang pasti bahwa tidak akan mendapat ikan karena begitu susahnya mengimbangi kecepatan renang ikan.

 

Sesaat kemudian orang dewasa dan orang tua mulai mengikuti dari belakang ke area yang sudah keruh airnya. Oya tinggi air ini kurang lebih sedada kami 60centi – 70centi. Namun dengan ketinggian air seperti ini masih banyak juga beberapa orang dewasa nangkap ikan dengan cara menyelam. hihihihihii,,….. ntah apa yang dipikirkan sehingga caranya demikian. Dah keruh, penuh lumpur, banyak keong.hihihihihihi…. Ga takut apa keong itu masuk mulut…

 

Ada juga yang menggunakan kail. Tapi ini area tidak boleh dimasuki  orang lain yang menggunakan jaring atau baju seperti kami anak-anak. Ntar ikan ga dapat, malah mata kail yang nyangkut. Mending nyangkut dibaju, nah kalo nyangkut di itu tuhh…. bisa-bisa pulangnya meringis perih… hihihihihihi

 

Bagi kami anak-anak, ini hanya sebagai hiburan, tapi tidak bagiku. mendapat ikan adalah sesuatu yang sangat berharga. Maklum, lauk di rumah untuk setiap makan adalah sesuatu yang langka bagi keluargaku. Ikan teri medan, untuk ukuran segengggam tangan, itu untuk makan ber-6. Begitulah saking iritnya atau dengan kata lainnya saking tidak mampunya… Kalo ada rejeki, beli ayam 8ons, itu untuk ber-6 juga, namun 2x makan…(duhh sedihhnya..)

 

Jadi mendapat ikan ini sesuatu yang mutlak. Jarang-jarang moment ini diperbolehkan perangkat desa, sehingga aku harus mendapat hasil. Bosen jugalah tiap makan dengan lauk ikan teri yang dijatahin, yang pernah aku hitung cuma 6-7 biji.  Aku tetap semangat lari sana lari sini tuk mengejar ikan yang kelihatan muncul ke permukaan. Maklum ikan juga butuh bernafas dengan udara….. Oya, ada satu aturan yang tidak boleh digunakan untuk menangkap ikan yaitu dengan cara memukul, karena akan memerciki sekitar..

 

Aku melihat kepala ikan muncul disekitarku, aku menangkap dengan menebarkan bajuku sebagai pengganti jaring. Ikan lolos. Arahin lagi pandangan ke arah lain. Muncul lagi tangakp lagi lolos lagi. begitu seterusnya. Namun tetap saja ngotot ga mau nyerah, karena bagiku malam ini lauk harus ganti. Muncul kepala ikan, aku tangkap dan..dapat!!! Girang bukan main. Aku kira kepala ikan lele tapi ternyata kepala….hihihihihihihi..

 

Aku lempar ke arah belakang sambil teriak..ularrr….!!! Yang dibelakang lompat se jadi-jadinya…wkwkwkwkwkkwkwwk.  Namun ada pemuda yang dengan tenang menangkapnya karena ular sudah setengah pingsan setelah aku tangkap tadi. Ga tau juga buat apa, mungkin buat soup ular kali yah…. hihihihihi. Aku kemudian mendekati pemuda itu, bukan untuk apa-apa, tapi mengambil baju yang ikut ku lempar tadi….hihihihii

 

Kejadian tadi tidak menggoyahkan tekatku tuk mendapat ikan hari ini. Tetap ngotot. Tak terasa 2 jam berlalu dan selama itu sudah berhasil menangkap beberapa ikan dan juga ada ular. Yang pasti apa yang hidup ditangkap saja. Aku keluar dari kolam dan mendekati pemuda tadi. Tujuanku cuma satu, barter ular dengan ikan..hihihihihi… Rezeki memang ga kemana, ular yang kutangkat dibarter dengan tangkapan ikan miliknya, senang karena ikannya besar… Mungkin untuk dia soup ular akan lebih nikmat dibanding gulai ikan mas…. apalagi soup ular dipadu dengan tuak..hihihihihihih

 

Aku membersihkan diri di area pemandian yang bersih dan selanjutnya aku pulang kerumah sambil pamit ke teman-temanku. Aku mendapati ibu dan menyerahkan ikan hasil tangkapanku yang sebelumnya sudah kumasukkan ke ember. Semakin aku senang karena melihat senyum sumringah dari ibu dan kakak perempuanku. Aku senang karena aku bisa “survive” atas keinginanku yang ingin mengganti lauk hari ini.

 

Aku kemudian ke teras depan rumah. Hari ini juga ada target yang harus aku kejar. Tahun ini mulai booming dengan accesoris atau atribut nama siswa dan nama sekolah di baju seragam sekolah, yang pemakaiannya bisa dipasang dan dilepas. Biasanya langsung dijahit menempel pada seragam sekolah. Sebelumnya memang aku membuat untuk bajuku sendiri. Aku membuat dasarnya dari pecahan ember yang ga terpakai lagi. Kemudian aku tempatkan kain yang sudah berisi nama siswa atau nama sekolah diatasnya dan selanjutnya aku tutup dengan plastic yang aku ambil dari plastic dagangan ibu. Aku jahit setiap sisi-sisinya. Pada bagian belakang aku tempatkan kancing peniti yang aku tempelkan dengan lem perekat. Dan traaadaaa….. jadi deh. Aku membuat 3 buah sesuai pesanan dari teman-teman. Masing-masing dihargai Rp100.,-

 

Aku istirahat sebentar, dan kulirik ke jam dinding sudah jam 5 sore. Sambil jalan kedalam rumah, aku mencari mangkok kaca, lilin, gunting, dan bohlam lampu pijar yang tidak terpakai lagi. Aku cuci bohlam dan kulap sampai kering. Aku ke teras lagi. Mulai lagi aku mengerjakan suatu proyek. Ya. Kami diminta membuat kerajinan tangan hasil kreasi sendiri dan dibawa ke sekolah. Ini merupakan pekerjaan untuk mata pelajaran keterampilan. Kali ini yang aku buat bukan untukku, tapi untuk teman yang lain yang memang tidak bisa membuatnya.

 

Aku mulai lobangi bohlam pada bagian dasarnya. Harus hati-hati memang karena jika tidak bisa membuat pecah bagian kaca bohlam. Bagian dasar sudah bolong. Pekerjaan selanjutnya adalah menghilangkan bagian dalam bohlam yang ada bagian kacanya tersendiri yang merupakan tempat kawat yang berpijar jika kena listrik itu. Dengan tetap menggunakan gunting, aku memecahkan bagian itu secara perlahan-lahan dari lobang bagian bawah bohlam. Butuh perjuangan namun berhasil juga.

 

Aku ambil bunga pasltik yang kecil untuk dimasukkan kedalah bohlam itu. Bunga plastic ini memang pemberian dari teman itu. Aku tambahkan juga manik-manik lainnya agar lebih banyak variasinya. Selanjutnya aku isi dengan air bersih sampai penuh. Aku tutup bagian bawah bohlam dengan plastic dan aku ikat. Tutup plastic aku rapikan sehingga tidak melebihi aluminium bagian bawah bohlam.

 

Aku kedapur sambil membawa mangkok kaca, lilin, dan kaleng bekas. Sambil menumpang di api tempat ibu memasak ikan tadi, aku mencairkan lilin warna-warni. Setelah cair aku tuangkan ke dalam mangkok dan ku bawa ke teras depan. Tunggu 5 menit kemudian aku masukkan bohlam tadi kedalamnya. Aku tungguin 15-20 menit dengan menjaga posisi bohlam tetap tegak sampai cairan lilin membeku. Setelah itu aku lepaskan dari mangkok dan jadilah suatu hiasan interior rumah yang dapat di tempatkan diatas meja tamu atau dimana saja yang sesuai. Dengan sedikit ukiran dibagian lilinnya, membuatnya lebih asik dilihat mata. Malam ini bersama dengan accesoris seragam tadi aku bawa untuk menagih biayanya. Hiasan interior ini aku hargai Rp200,-

 

Aku “survive” atas keinginanku yaitu untuk menyambut suasana 17 Agustusan di kota sehingga aku dapat membeli sesuatu untuk merayakannya. Membeli dengan uang hasil usahaku sendiri. Aku senyum menyambut malam ini karena akan memperoleh uang itu. Kulihat kesebelah dapur, ikan hasil tangkapanku sudah matang. Ku panggil ayah ke kedai kopi (warkop) untuk bersantab malam bersama. Sedangkan kedua abangku ga tau kemana, mungkin masih sama teman-temannya. Tak terasa air mataku mengalir saat bersantap bersama karena melihat senyum sumringah dari wajah ayah, ibu, dan kakak perempuanku.

 

Sun, 15/10/2017

 

(Gambar ilustrasi diambil dari https://www.brilio.net/news/kebahagiaan-ini-cuma-dirasakan-oleh-kamu-yang-tinggal-di-desa-151021e.html#  kemudian diedit)

 

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *