dosen killer

Dosen Killer

Mendengar kata “Dosen Killer” pastilah kita teringat akan masa-masa kuliah.. 😀 . Setiap mahasiswa yang begitu susah mendapatkan nilai bagus dari mata kuliah, padahal belajarnya sudah begitu maksimal, pasti pernah berfikiran bahwa itu dosennya adalah dosen killer. Padahal bisa saja memang sang mahasiswanya yang ga bisa mengikuti ritme dari proses belajar mengajar dari sang dosen. Atau dosen mempunyai prinsip yang menjadi basicnya dalam menilai prestasi mahasiswanya. Bisa juga karena ada variable lain yang menjadi faktor dalam menilai prestasi mahasiswa. Faktor kehadiran kuliah misalnya……

 

Jadi teringat dulu sewaktu kuliah di Bumi Sriwijaya. Dengan menyandang status mahasiswa akuntansi, yang tiap kuliah membutuhkan waktu 45 – 60 menit perjalanan, berasa menjadi seorang yang sangat bebas pada masa-masa mulai perkuliahan. Minggu pertama kuliah, hampir semua mahasiswa berebut tempat duduk di depan dimana ruangannya beruba ruang teather :D. Namun minggu-minggu selanjutnya mulai menunjukkan kebiasaan sewaktu SMA, duduklah dibagian paling belakang.. 😀

Hampir disetiap mata kuliah posisi duduk seperti itu. Kurang tau juga kenapa seperti itu, apakah masih ngambek karena sewaktu tes UMPTN itu merupakan pilihan kesekian? Itu sepertinya iya…. Kalo sekarang mungkin lebih tepatnya “Belum Move On” jiahhhhhhhhhhhhhh

Tetapi, seperti yang diceritakan diawal tulisan ini, ada satu mata kuliah yang dosennya kategori “Dosen Killer”. Itu dari segi penilaian mahasiswa loh…. bukan pendapat pribadi…. Ya tentu saja seperti itu bagi mahasiswa yang tidak mampu mengikuti ritme proses belajar mengajarnya.

Persyaratan dari sang dosen sebenarnya adalah simple. Dalam 1 semester itu dilakukaan test/quiz sebanyak 4 kali. Nilai rata-rata dari quiz ini dibuatkan suatu range, yang mana dari range itu akan menentukan nilainya mulai dari E – A. Jika dari rata-rata quiz mendapat nilai A, maka tidak perlu ikut Ujian Akhir Semester. Nilainya otomatis A. Jika dari rata-rata quiz bernilai B, nilai juga tidak perlu ikut ujian akhir semester karena otomatis mendapat nilai B. Namun jika ingin bernilai A, tentu harus ikut ujian akhir semester sehingga nilai ujian ini dapat diperhitungkan dalam menentukan nilai akhir apakah masih B atau bisa menjadi nilai A. Begitu juga nilai rata-rata quiz yang lainnya. Persyaratan itu tidak bisa ditawar lagi.

Dalam perjalanannya semua tahap itu dilalui oleh mahasiswa yang mengikutinya. Mulai berasa setelah ikut quiz yang ke-2. Jika dari rata-rata kedua quiz ini bagus, yang artinya bisa bernilai A atau B, maka ada kemungkinan mendapat nilai A atau B tanpa harus mengikuti ujian akhir semester yang begitu menguras pikiran dalam persiapannya.

Sangat berasa lagi jika sudah mengikuti quiz ke-3, karena jika bernilai A atau B, besar kemungkinan nilai akhirnya benilai A atau B tanpa mengikuti ujian akhir semester. Nah jika sudah mengikuti quiz yang ke-4, sudah pasti tau kan…. hehehehee

Moment setelah mengikuti quiz ke-4 ini lah yang paling menakjubkan, karena banyak yang bertingkah lain dari biasanya. Mahasiswa yang berkumpul didepan papan pengumuman hasil quiz, punya ekspresi yang beda. Ada yang hahahhh hihihi, ada yang tutup mata, ada yang tutup mulut nahan kaget, bahkan ada yang tutup telinga….hahahhahaa. Tutup telinga karena ga tahan dengan suara yang teriak kencang. Nah, yang biasanya teriak kencang ini pasti dari Medan..jiaahhhhhhhhhhhh hahahahaha

Mahasiswa yang mendapat nilai A, ekspresinya ada yang langsung mengepalkan tangan sambil berkata “YES”,dan ada juga yang mengucap syukur. Sedangkan yang mendapat nilai B, ekspresinya lebih seru lagi. Ada yang masih protes kenapa dapat B bukan A, ada yang bersyukur juga karena nilai B sudah digenggam sehingga 1 step lagi untuk mendapat nilai A, namun ada juga yang lebih aneh. Dibilang aneh, karena saking kesalnya harus ikut ujian akhir semester untuk mendapat nilai A, tanpa sadar tangganya bergerak menggebuk dinding, belum puas kaki menendang, hanya yang ditendang kaki mahasiswa sebelahnya..hahahahahahaaa. Masih belum puas juga dan belum sadar, kakinya menendang dinding, tapi setelah itu kayaknya mulai sadar karena mengaduh, ternyata sakiiiittt maaangggggg…hahahaaaa. Oya, baru keingat, dia merupakan second striker di team akuntansi angkatanku….. Pantas nendang, hobby maen bola kaki sih….hahahaaaa……

Kebayang kan, ekspresinya kalo yang dapat nilai C? tapi susah bayanginnya yang dapat nilai D apalagi nilai E, ga tega deh liatnya……

Nah, kalo ekspresi ane gan (jiaahhh masuk bahasa kaskuser neh heheh..), senyum saja pas liat nilai rata-rata quiz, meskipun dapat C hahahaaa…. Dari awal kuliah sudah sadar kalo mata kuliah ini sangat berat bagi gua, karena merupakan mata kuliah inti dari jurusan akuntansi. Juga karena saudara gua yang dulu kuliah di USU sudah pernah menasehati untuk menghadapai mata kuliah itu. Dia bercerita sesuai dengan memories dia sewaktu kulaih disana.

Ceritanya begini….

Dosennya, yang seorang profesor, pada akhir perkuliahan menyampaikan prinsipnya sebagai dosen dalam memberi nilai kesemua mahasiswanya. Dia menyampaikan karena pertanyaan dari mahasiswa kenapa begitu susahnya mendapat nilai yang baik darinya. Prinsipnya itu kurang lebih seperti ini.

“Bagi saya, nilai A adalah nilai Tuhan !!”

“Saya, B !!”

“Kamu,C !!”

hahahhahahahahaa……………………
Gimana mau protes mau dapat A atau B, lah wong dia aja profesor bernilai B, masa loe mau nilai B juga, kan loe mahasiswanya yang jelas-jelas loe ikut mata kuliahnya…… hahahaaa… Jadi akibat ikut mata kuliah ini, akhir masa kuliah ga bisa peroleh status cum laude.. hik hik hik…. sedih ane gan…..

Jadi berkaca dari pengalaman saudara gua itu lah, makanya tenang tenang aja menghadapi moment itu. Disaat saudara gua harus pasrah bernilai C di transkip ijazah akademik, gua masih berkesempatan memperbaiki dari C ke minimal B, dengan cara mengulang kembali mata kuliah itu tahun depan. Tapi kalo ada teman yang bertanya, kok loe ngulang, gw cukup menajwab..

“Gua ga ngulang, gua hanya mau mendalami lagi mata kuliah ini” hahahahahahha….

Tapi memang di akhir perkuliahan selanjutnya, gua dapat nilai B, meski harus mengikuti perkuliah bersama adik tingkat. Gapapa lah, biar ganti suasana dan ganti pemandangan…jiahhhhh…..abang kanji nian……hahahaaa…..

Satu hal yang sangat berarti dari prinsip masing-masing dosen diatas adalah, bahwa akan sangat berguna nanti saat ilmu di aplikasikan di dunia kerja, namun tetap tergantung dari pribadi masing-masing. Pesan dari dosen USU itu mengajarkan bahwa di dunia kerja ilmu itu selalu berkembang, sehingga kita tidak bisa mengklaim bahwa kitalah yang paling jago dalam bekerja, karena semua pasti mempunyai kelebihannya masing-masing, dan masih banyak yang lebih jago dari kita. Diatas mahasiswa masih lebih jago dosen, diatas dosen masih lebih jago Tuhan.

Sementara dosen gua di UNSRI, prinsipnya mengajarkan di dunia kerja, bahwa lebih baik mengerjakan suatu pekerjaan itu sedikit demi sedikit, bukan langsung sekaligus, karena akan sangat menguras tenaga dan waktu. Jangan heran jika banyak karyawan selalu mengeluh jika mendekati akhir bulan, keluhannya adalah banyak pekerjaan yang harus dikerjaan, jadi harus LEMBUR. Coba kalo setiap hari dicicil pekerjaannya, atau minimal seminggu sekali deh,..Jika itu dilakukan ga akan selalu ada kerjaan lembur….

yah…kira-kira begitu..!!!

Untuk dosenku, terima kasih telah memberi pelajaran yang sangat berharga, karena sampai detik ini prinsip itu tetap kujalankan. Ku angkat topi sambil menundukkan sedikit kepala, tanda hormatku kepada anda. Sehat selalu dan terus lah mengajar…

 

Thu, 31/08/2017

Salam CUEK’98

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *